MAKNA BULAN-BULAN MULIA (ASYHURUL HURUM ) DALAM ISLAM
KHUTBAH I
اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا, وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ يَوْمًا فَيَوْمًا وَشَهْرًا فَشَهْرًا, وَمَيَّزَ فِيْهَا أَرْبَعَةَ حُرُمٍ تَرْغِيْبًا لَنَا بِكَثْرَةِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَاتِ فِيْهَا وَتَذْكِيْرًا. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمَبْعُوْثِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا, وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ السُّنَّةَ إِلَى الطَّامَّةِ الْكُبْرَى. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ. الأَيَةَ
Ma’āsyiral Muslimin Rahimakumullāh!
Marilah! Kita berusaha semaksimal mungkin meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan senantiasa menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan perantara ketaqwaan dan amal-amal yang sholih itulah kita akan menggapai ridho-Nya sehingga memperoleh keselamatan baik di kehidupan dunia maupun di kehidupan akhirat.
Ma’āsyiral Muslimin Rahimakumullāh!
Waktu merupakan nikmat dari Allah Ta’ala, oleh karenanya kita semua harus mensyukurinya dengan tidak menyia-nyiakannya, tentu dengan melatih diri untuk selalu berbuat kebaikan.
Mari kita berenung! Selama kita hidup di dunia yang fana ini, seberapa efektifkah kita menggunakan waktu kita dari hari demi hari, dari bulan demi bulan, dari tahun demi tahun. Sudahkah kita memanfaatkan waktu kita sebagaimana tujuan penciptaan kita. Masing-masing dari kitalah yang bisa mengukur dan menilainya.
Allah sengaja menjadikan waktu bergulir dan berputar dalam perhitungannya yang tetap supaya manusia bisa menghitung waktu sehingga bisa menyusun perencanaan-perencanaan yang terukur sesuai dengan garis besar tujuan hidup.
Allah berfirman dalam Surat Yunus Ayat 5 :
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
Di dalam Tafsir Ibnu ‘Asyur terdapat penjelasan mengenai ayat ini bahwa Allah menjadikan matahari bersinar dan rembulan bercahaya supaya manusia bisa mengambil manfaat yang diperlukan baik di siang hari maupun di malam hari.
Jama’ah Jum’ah yang dimuliakan Allah!
Sebagaimana yang kita tahu bahwa jumlah bulan ada 12 (dua) belas. Dari sekian nama bulan 12 (dua belas) yang ada, 4 (empat) di antaranya merupakan bulan yang mulia selain bulan Ramadhan, yakni Dzul-Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab.
Allah berfirman dalam al-Qur’an Surat al-Taubah Ayat 36 :
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ.
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”
Di dalam tafsir al-Su’udy dijelaskan bahwa 4 (empat) bulan itu disebut dengan bulan harom karena bertambahnya kemuliaan dan diharamkannya peperangan pada bulan-bulan tersebut. Artinya, bahwa pada bulan-bulan tersebut terdapat kemuliaan tersendiri bagi orang yang menaruh perhatian lebih terhadap amal-amal kebaikan termasuk menghindari peperangan. Di dalam Kitab I’anatut-Thalibin juga disebutkan:
وَإِنَّمَا سُمِيَتْ حَرَمًا: لِأَنَّ الْعَرَبَ كَانَتْ تَتَحَرَّمُهَا وَتُعَظِّمُهَا، وَتُحَرِّمُ فِيْهَا الْقِتَالَ، حَتَّى أَنَّ أَحَدَهُمْ لَوْ لَقِيَ قَاتِلَ أَبِيْهِ أَوْ ابْنِهِ أَوْ أَخِيْهِ فِي هَذِهِ الْأَشْهُرِ لَمْ يُزْعِجْهُ، وَكَانَ الْقِتَالُ فِيْهَا مُحَرَّمًا فِيْ صَدْرِ الْإِسْلَامِ
Sesungguhnya dinamakan dengan bulan Haram karena orang-orang Arab dahulu menghormati dan mengagungkannya serta melarang pertempuran di dalamnya, bahkan jika salah satu dari mereka bertemu dengan pembunuh ayah, anak, atau saudaranya pada bulan-bulan ini, dia tidak boleh mengganggunya, dan memang pertempuran dilarang pada bulan-bulan ini di masa-masa awal Islam. Nama-nama bulan yang mulia ini adalah:
- Dzulqa’dah
Dzulqa’dah merupakan permulaan dari empat bulan yang dimuliakan. Secara bahasa, Dzulqa‘dah terdiri atas dua kata, yaitu dzu dan al-qa‘dah. Dalam bahasa Arab, “dzu” berarti ‘yang memiliki’, dan al-qa‘dah berarti ‘cara duduk’. Disebut Dzulqa’dah disebabkan orang-orang Arab pada masa lalu tidak melakukan perang (qu’uud ‘anil qitaal) dan hanya duduk-duduk di rumah saja pada bulan itu.
- Dzulhijjah
Dzul hijjah artinya adalah pemilik haji, dinamakan bulan Dzulhijjah karena manusia melakukan ibadah haji di bulan ini. Selain itu, di antara kemuliaan bulan Dzulhijjah adalah di dalamnya terdapat empat jenis ibadah penting sekaligus, yakni puasa, haji, shalat Idul-Adha, dan kurban.
- Muharram
Muharram secara bahasa dapat diartikan sebagai bulan yang diharamkan. Yaitu bulan yang di dalamnya orang-orang Arab dilarang (diharamkan) melakukan peperangan.
- Rajab.
Di dalam Kitab I’anatut-Thalibin terdapat penjelasan
(قًوْلُهُ: ثُمَّ رَجَبَ) هُوَ مُشْتَقُّ مِنَ التَّرْجِيْبِ، وَهُوَ التَّعْظِيْمُ، لِأَنَّ الْعَرَبَ كَانَتْ تُعَظِّمُهُ زِيَادَةً عَلَى غَيْرِهِ. وَيُسَمَّى الْأَصَبُّ: لِانْصَابِ الْخَيْرِ فِيْهِ. وَالْأَصَمُّ: لِعَدَمِ سِمَاعِ قَعْقَعَةِ السِّلَاحِ فِيْهِ. وَيُسَمَّى رَجَمَ - بِالْمِيْمِ - لِرَجَمِ الْأَعْدَاءِ وَالشَّيَاطِيْنِ فِيْهِ حَتَّى لَا يُؤْذُوْا الْأَوْلِيَاءَ وَالصَّالِحِيْنَ.
““Rajab" merupakan derivasi dari kata “tarjib” yang berarti mengagungkan atau memuliakan. Rajab biasa juga disebut “Al-Ashabb” (الأصب) yang berarti “yang mengucur” atau “menetes”. Dijuluki demikian karena derasnya tetesan kebaikan pada bulan ini. Bulan Rajab bisa juga dikenal dengan sebutan “Al-Ashamm” (الأصم) atau “yang tuli”, karena tidak terdengar gemerincing senjata pasukan perang pada bulan ini. Julukan lain untuk bulan Rajab adalah “Rajam” (رجم) yang berarti melempar. Dinamakan demikian karena musuh dan setan-setan pada bulan ini dikutuk dan dilempari sehingga mereka tidak jadi menyakiti para wali dan orang-orang shalih.”
Allah juga melarang kita untuk berbuat kedhaliman pada bulan-bulan itu, sehingga kita harus waspada terhadap segala bentuk perbuatan yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain. Imam Fakhruddin ar-Razi dalam tafsirnya, Mafatihul Ghaib menjelaskan, para ulama sepakat bahwa Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijah, dan Muharam merupakan bulan-bulan yang dimuliakan dalam Islam. Maksud kata al-ḫurum pada ayat tersebut adalah perbuatan maksiat pada bulan-bulan tersebut akan mendapat balasan siksa lebih berat di banding bulan lain. Demikian pula perbuatan baik akan mendapat pahala lebih besar.
Selain itu, kita tentu juga harus menjaga kelangsungan hidup yang aman, tenteram dan damai dengan cara menghindari permusuhan dan peperangan. Ketika mendapati adanya permusuhan di antara 2 (dua) orang maka segeralah untuk memperbaiki hubungan keduanya dengan nasihat, do’a dan ajakan yang baik. Sebagaimana perintah Allah dalam al-Qur’an Surat al-Hujurat ayat 10:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Di dalam Kitab Hasyiyatus Showy yang merupakan penjabaran dari Kitab Tafsir Jalalain terdapat penjelasan;
(قَوْلُهُ إِخْوَةٌ فِي الدِّيْنِ) أَيْ مِنْ حَيْثُ إٍنُّهُمْ يَنْتَسِبُوْنَ إِلَى أَصْلٍ وَاحِدٍ وَهُوَ الْإِيْمَانُ (قَوْلُهُ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ) خَصَّ الْإِثْنَيْنِ بِالذَّكَرِ لِأَنَّهُمَا أَقَلُّ مَنْ يَقَعُ بَيْنَهُمَا النَّزَاعُ فَإِذَا أُلْزِمَتْ الْمَصَالِحَةُ بَيْنَ الْأَقَلِّ كَانَتْ بَيْنَ الْأَكْثَرِ أَوْلَى
“Penjelasan “orang-orang mukmin itu bersaudara dalam seagama”, maksudnya bahwa mereka sebangsa dalam satu prinsip yang sama yaitu keimanan. Adapun penjelasan kalimat (maka damaikanlah antara kedua saudara kalian) bahwa ayat ini dikhususkan dengan 2 (dua) orang karena 2 (dua) orang dalam lingkup kecil lebih sedikit potensi perselisihannya, ketika kemaslahatan bisa tercapai antara yang sedikit maka antara yang lebih banyak tentu lebih potensial ketercapaiannya. Artinya, kedamaian global akan tercapai ketika kedamaian di antara lingkup yang lebih kecil juga tercapai. Oleh karena itu, mari kita ciptakan kedamaian di mulai dari unsur terkecil di lingkungan kita sehingga kedamaian global juga akan tercapai.
Ma’āsyiral Muslimin! Rahimakumullāh.
Berkenaan dengan keistimewaan dari 4 (empat) Bulan Haram ini, terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhori;
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهما قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِنًى: ((أَتَدْرُونَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، فَقَالَ: فَإِنَّ هَذَا يَوْمٌ حَرَامٌ ، أَفَتَدْرُونَ أَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ: بَلَدٌ حَرَامٌ ، أَفَتَدْرُونَ أَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ: شَهْرٌ حَرَامٌ ، قَالَ: فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا )) رواه البخاري .
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata: Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “tahukah engkau hari apa ini?”. Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “sesungguhnya ini adalah hari yang haram (suci). Apakah engkau tahu negeri apa ini?. Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “ini adalah negeri yang haram (suci). Apakah kalian tahu bulan apakah ini?”. Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi bersabda: “ini adalah bulan haram (suci)”. Lalu beliau bersabda lagi: “sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpahkan) dan harta kalian (untuk dirampas) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” (HR. Bukhari).
Dalam hadis lain sebagaimana yang diceritakan Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW juga bersabda:
مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ, قَالُوا وَلَا الْجِهَادُ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ
Artinya: "Tidak ada amal yang lebih utama dibanding amal pada hari-hari ini," Mereka bertanya, "Tidak juga jihad?" Beliau menjawab, "Tidak pula oleh jihad, kecuali seseorang yang keluar untuk mengorbankan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan sesuatu apapun," (HR Bukhari).
Jama’ah Jum’ah yang dimuliakan Allah.
Dengan demikian, hari-hari di bulan yang mulia ini sudah sepantasnya kita jadikan sebagai momentum untuk melatih diri dengan berbagai kebaikan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala mengingat amalan yang dikerjakan selama 4 (empat) bulan haram juga disebut sebagai amalan yang bahkan lebih utama dibandingkan dengan berjihad.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH II
اَلْحَمْدُ للهِ صَاحِبُ الدَّهْرِ, الَذِي يُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَبِيَدِهِ الْأَمْرُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ صَاحِبُ الْأَمْرِ, وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ, الدَّاعِى إلىَ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ. اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ سُنَّتَهُ إِلىَ يَوْمِ الْمَحْشَرِ. أَمَّا بَعْدُ
فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَعَزَّ وَأَجَلَّ وَأَكْبَرَ.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Tradisi "Rebo Wekasan"
Di sebagian daerah, terdapat kebiasaan melakukan beberapa ibadah. Seperti: salat, membaca yasin, dan lain-lain yang dilaksanakan di hari Rabu terakhir pada bulan Shafar (rabu wekasan) d
Idul Qurban; Momentum Jihad Pangan
Khutbah I اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْب
Solusi terhadap Fenomena Seorang Kayim menerima Zakat Fitrah
Di beberapa daerah, orang yang ditunjuk oleh pemerintah desa untuk mengurus hal ihwal urusan sosial beragama di tengah masyarakat disebut Kayim. Nah, Kayim ini terkadang mendapa
SEJARAH LAN KAUTAMAN NUZULUL QUR'AN
Salah satunggaling piwulang wigatos ingkang kedah dipun mangertosi dening umat Islam inggih punika mangertosi babagan sejarah tumurunipun Al-Quran. Kanthi pangertosan punika, kita badhe
KAUTAMAN LAN HIKMAHIPUN MAOS AL-QUR'AN
Assalamu'alaikum warahmatullah wa barokatuh.. الحمد لله الذي أنعم علينا بنعمة الإيمان. وفضّلنا بتعلّم العلوم والبيانوالص